Rabu, 24 Oktober 2012

Mengapa Qurban Berupa Daging?





Setahun sekali, umat muslim di dunia merayakan Idul Adha, atau biasa disebut sebagai hari raya Qurban yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah. Selain melaksanakan ibadah haji di Baitullah, umat muslim juga disyariatkan untuk menyembelih hewan Qurban. Mengapa Allah memerintahkan kita untuk menyembelih hewan qurban dan bukannya membagi-bagikan makanan pokok atau yang sejenisnya? Berikut ini adalah salah satu hikmah perintah menyembelih hewan qurban.

Hewan qurban, baik berupa kambing atau sapi, adalah sumber protein hewani yang sangat baik. Protein dalam daging kambing atau sapi dicerna dan diserap lebih baik daripada sumber protein nabati seperti kedelai atau kacang-kacangan lainnya. Protein dalam daging dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dalam tubuh kita, mulai dari pembentukan enzim, hormone, system kekebalan tubuh, perbaikan jaringan tubuh yang rusak, bahkan pembentukan dan pemeliharaan otak pada manusia. Asupan protein yang tidak mencukupi kebutuhan akan menghambat fungsi-fungsi sistem ini. Hal ini tentu berbahaya, sebab sebagian materi penyusun protein tidak dapat dibentuk oleh tubuh sehingga kekurangan materi ini akan menyebabkan kelainan pada tubuh manusia.

Asupan protein yang bermutu dapat dipenuhi salah satunya dengan mengkonsumsi daging sebagai salah satu sumber protein hewani. Akan tetapi, konsumsi daging dan protein hewani lain oleh masyarakat Indonesia masih tergolong sangat rendah saat ini. Menurut Menteri Pertanian, Suswono, konsumsi daging di Indonesia tahun 2010 rata-rata hanya 7 kg per kapita per tahun (anataranews.com). Padahal, menurut pedoman umum gizi seimbang (PUGS), daging atau pangan hewani penukarnya seperti ikan, telur, susu, dan unggas sebaiknya dikonsumsi sebanyak 2 – 3 porsi sehari dengan takaran per porsi sebanyak 50 gram. Jadi, apabila dikalkulasi jumlah yang pangan hewani berupa daging atau penukarnya adalah 100 – 150 gram sehari atau setara 36,5 – 54,7 kg per kapita per tahun.

Di antara jenis pangan hewani lainnya, daging memang termasuk bahan pangan yang mahal. Tidak heran apabila konsumsinya lebih rendah dibandingkan jenis pangan hewani lain, terutama oleh kalangan ekonomi menengah ke bawah yang mungkin hanya menyantap daging setahun sekali di hari qurban ini. Oleh karena itu, adanya kebijakan syariat berqurban berupa penyembelihan hewan untuk dibagikan dagingnya kepada fakir miskin merupakan bukti bahwa Islam sangat memperhatikan semua aspek kebutuhan manusia, termasuk asupan gizi. Selain mengajarkan kita untuk berbagi, syariat ini juga mengajak kita untuk lebih memperhatikan asupan gizi saudara kita yang rendah aksesibilitas pangannya.
Wallahu a’lam.