Jumat, 26 Oktober 2012

Bagaimana Cara Mengukur Keliling Bumi?

 










Kita semua hidup di atas permukaan bumi, tapi tahukah berapa keliling bumi kita ini? Pernahkah kita memikirkan, bagaimana para ilmuan di masa lalu dapat mengukur keliling bumi? Keingintahuan ilmuan zaman dulu mengenai berapa besar bumi ini, telah mendorong Erathostenes, ilmuwan Mesir mencoba mengukur keliling dan diameter bumi kita ini. 

Pada suatu hari ia mengamati, bahwa pada tanggal 21 Juni, semua sumur di Siena (sekarang disebut Aswan, sebuah tempat di tepi sungai Nil, Mesir) memantulkan cahaya matahari pada permukaan airnya sehingga dapat dilihat sampai ke dasarnya, tidak ada bagian yang gelap. Artinya saat itu di sana matahari benar-benar tegak lurus dengan permukaan bumi.

Sementara itu pada saat yang sama di Alexandria, suatu kota di utara Syene, tugu-tugu membentuk bayangan, yang berarti matahari tidak tegak lurus di atas kepala. Fenomena ini membuat Erathostenes yakin bahwa bumi berbentuk bulat (pada saat itu masih kuat anggapan bahwa bumi berbentuk datar seperti meja). Bukan itu saja, melalui peristiwa ini ia juga berhasil menghitung keliling bumi. Dengan mengukur sudut bayangan tugu di Alexandria dan mengukur jarak Syene-Alexandria maka dapat ditentukan berapa besar keliling bumi.

Dengan pemahaman geometri dan matematikanya, Erathostenes kemudian menghitung keliling bumi. Dia mengukur sudut bayangan tugu yang terbentuk di Alexandria, yang ia peroleh sebesar 7,2 derajat (kira-kira 1/50 dari sudut seluruh permukaan bumi (360 derajat)). Sedangkan jarak antara Syene dan Alexandria adalah 5000 stadia. Stadia adalah satuan panjang yang biasa digunakan oleh orang yunani kuno. Satu stadia kira-kira sama dengan 185 m.

Erathostenes menganggap bahwa besar sudut antara kota Syene dan Alexandria (7,5 derajat) adalah kira-kira 1/50 dari sudut seluruh permukaan bumi (360 derajat). Oleh karena itu, persamaan di atas dapat diselesaikan untuk mencari keliling bumi, yaitu:

Keliling Bumi = 50 x Jarak Syene_Alexandria = 50 x 5000 stadia = 250.000 stadia = 46.250 km (250.000 x 0,185).

Hasil tersebut hanya meleset sekitar 15% dari perhitungan modern. Namun demikian, apa yang telah dilakukan Erathostenes merupakan penemuan yang spektakuler untuk masa itu, mengingat peralatan yang dipakainya sangat sederhana, dan dilakukan 2.200 tahun yang lalu.

SUMBER