Kamis, 05 April 2012

Kisah Dakwah Nabi Nuh

Oleh: Ulis Tofa, Lc
Bertahun lamanya kaum Nabi Nuh a.s. menyembah berhala. Mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr –nama-nama berhala ini diwarisi masyarakat Arab di masa jahiliyah. Mereka berbuat yang demikian itu dikarenakan kejahilan dan menuruti hawa nafsu.

Masyarakat yang Dihadapi Nabi Nuh
Bertahun lamanya kaum Nabi Nuh a.s. menyembah berhala. Mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr –nama-nama berhala ini diwarisi masyarakat Arab di masa jahiliyah. Mereka berbuat yang demikian itu dikarenakan kejahilan dan menuruti hawa nafsu.

Asal muasal nama-nama berhala itu diambil dari nama-nama ulama mereka yang pernah hidup bersama mereka sebelumnya. Dengan dalih untuk mengenang jasa-jasa mereka dan untuk mengingatkan semangat peribadatan umat ketika itu, maka dibuatlah patung, gambar, simbol-simbol visualisasi fisik mereka. Namun lambat laun dengan bergantinya generasi, patung-patung itu justru disembah dan dijadikan tuhan.


Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (Nuh: 23).
Di kondisi masyarakat seperti itulah Nabi Nuh a.s. diutus. Nuh adalah orang yang sangat fasih dalam bertutur, cerdas akalnya, pemikirannya jauh ke depan, santun perilakunya, sangat sabar tatkala harus berdebat, memiliki kemampuan berargumentasi yang kuat, dan punya kekuatan meyakinkan lawan bicara. Dengan bekal itu Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk kembali kepada Allah swt. Sayang, kaumnya menolak seruannya. Namun Nuh a.s. tetap memberi peringatan tentang dahsyatnya siksa pembalasan di hari kiamat. Dan kaumnya tetap membisu dan tuli. Nuh a.s. terus memotivasi mereka dengan imbalan pahala yang sangat besar jika mau beriman, namun mereka semakin menutup telinga dan mata.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat).” (Al A’raf: 59).

Kreatif dan Sabar dalam Berdakwah
Nuh a.s. tetap mendakwahi dan mendebat kaumnya dengan ulet dan sabar. Nuh mencurahkan kepedulian kepada mereka dengan tutur kata yang lembut. Nuh tidak putus asa mengajak mereka untuk beriman. Bahkan, Nuh menggunakan beragam metode dakwah. Nuh mendakwahi mereka siang dan malam. Sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Jika melihat peluang dakwah di malam hari, beliau lakukan dakwah di malam hari. Bila ada peluang dakwah secara terang-terangan, beliau menyampaikan dakwah secara terang-terangan.
Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. (Nuh: 5-9).
Nuh menggiring nalar pemikiran mereka untuk mencerna rahasia alam raya, memikirkan keindahan semesta alam. Nuh menerangkan fenomena malam yang berangsur gulita. Langit yang menghampar penuh bintang. Bulan yang bersinar. Matahari yang memberikan cahaya. Bumi yang mengalir disela-selanya sungai-sungai dan menumbuhkan beragam tanaman. Semua itu ia terangkan dengan sangat fasih. Ia berbicara dengan dalil yang kuat. Ia menerangkan hakekat Tuhan Yang Satu. Tuhan Yang Kekuasaan-Nya tidak terbatas dan sangat mengagumkan. (Nuh: 14-20).
Demikian Nabi Nuh mendekati dan meyakinkan kaumnya. Dari usaha yang tidak kenal lelah itu, berimanlah sedikit orang dari kaumnya. Mereka menyambut dakwah Nuh a.s. Mereka membenarkan risalahnya. Mereka terdiri dari kaum yang lemah dan tak berpunya.

Iri dan Sombong Penyebab Penolakan Dakwah
Adapun orang-orang yang telah Allah swt. tutup hatinya, mereka tidak akan beriman. Karena potensi pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran mereka tidak difungsikan untuk meraih hidayah, mereka tidak mendapatkan cahaya tauhid. Mereka itu adalah para pemuka kaum, para elit yang memiliki kekuasaan dan jabatan. Tidak hanya menolak, bahkan mereka mengejek dan merendahkan martabat Nabi Nuh.
Para elit itu berkomentar, ”Kamu kan manusia biasa seperti kami, kamu salah seorang di antara kami. Kalau Allah swt. menginginkan rasul, pasti Dia akan mengutus malaikat. Dan karena itu kami pasti akan serta merta mendengarkan perkataannya. Kami akan segera memenuhi seruannya.”
“Kemudian siapa mereka para rakyat jelata itu yang mengikuti kamu? Mereka pekerja kasar dan tukang gembala gembel. Mereka yang telah mengikuti kamu adalah orang-orang dungu yang tidak menggunakan akalnya. Seandainya apa yang kamu bawa itu baik, pasti kami tidak akan didahului oleh mereka-mereka itu. Seandainya apa yang kamu katakan itu benar, pasti kami yang pintar dan intelektual ini akan lebih dahulu mengimani kamu.”

Mereka tak henti mendebat Nabi Nuh. Mereka terus memojokkan Nabi Nuh dan pengikutnya. Mereka mengejek. ”Kami tidak melihat kamu dan pengikutmu lebih utama dibandingkan kami. Dalam hal kepintaran, kefasihan, keluasaan wawasan, dalam hal menentukan yang membawa maslahat, dan pengetahuan tentang pridiksi masa depan. Kami mengira kalian adalah para pembohong!” (Yunus: 27).
Nabi Nuh menjawab dengan santun dan cerdas –meskipun omongan mereka sudah kelewat batas penghinaan. ”Bagaimana pendapat kalian, seandainya saya dalam kebenaran yang datangnya dari Tuhan-ku. Berlandasan hujjah nyata yang membenarkan dakwahku. Saya mendapatkan rahmat dan keutamaan dari Tuhan-ku. Maka, apakah saya bisa memaksa kalian, atau saya berkuasa membawa kalian kepada iman?” (Yunus: 28).

Mereka menjawab, ”Wahai Nuh, seandainya kamu menginginkan kami mendapat hidayah dan taufiq, kamu menginginkan dukungan dan kemuliaan dari kami, mengapa kamu jadikan pengikutmu yang lemah lagi tak berpunya itu sebagai pendukung? Kami tidak mungkin bersanding dengan mereka. Kami tidak mungkin berjalan dengan mereka. Keyakinan kami tidak mungkin sama dengan keyakinan mereka. Bagaimana mungkin kami mengikuti agama yang tidak membedakan antara si kaya dan si miskin, antara pejabat dengan rakyat?”
Bangga dengan Pendukung Dakwah

Nabi Nuh menjawab, ”Risalah yang aku bawa ini adalah untuk kalian semua tanpa terkecuali. Tidak ada pembedaan antara orang yang pintar atau yang biasa-biasa saja; orang yang terkenal atau yang tidak dikenal; orang berpunya atau miskin papa; pejabat atau rakyat. Maka bersegeralah kalian untuk menjawab seruanku pasti apa yang kalian kehendaki akan tercapai.”
“Dan bagaimana mungkin aku meremehkan kaum yang membelaku, sedangkan kalian menjadi penentang? Seruanku telah sampai di relung kalbu mereka. Mereka beriman, sedangkan kalian menolak, bahkan memusuhiku. Mereka pendukung risalah ini. Mereka menjadi penyeru dakwah ilallah. Bagaimana jika mereka mengadu di depan mahkamah Allah swt. dan menuntut saya? Mereka mengadu kepada Allah swt. bahwa aku telah membalas penerimaan mereka dengan kufur nikmat, membalas kebaikan mereka dengan pengingkaran. Ingatlah, kalian benar-benar kaum yang jahil!”

Dan (dia berkata), “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui”. (Hud: 29).
Debat antara Nabi Nuh dan penentangnya semakin meruncing. Pertentangan di antara mereka menghebat. Inilah yang menjadikan para penentangnya putus asa. Mereka berkata. “Hai Nuh, Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Yunus: 32)

Nabi Nuh tersentak. Ia menjawab, ”Kalian memang benar-benar keterlaluan. Kalian tidak lagi menggunakan akal sehat kalian. Siapa saya ini sehingga saya bisa mendatangkan adzab kepada kalian atau menolak adzab dari kalian? Bukankah saya ini manusia seperti kalian semua yang diberi wahyu bahwa Tuhan kalian satu, maka saya sampaikan apa yang diperintahkan kepadaku. Saya memberi kabar gembira bagi yang memenuhi seruanku. Dan saya juga memberi peringatan kepada kalian dengan siksa yang pedih. Ketahuilah bahwa segala sesuatu tergantung dan dikembalikan kepada Allah swt. Jika Allah swt. berkehendak akan memberi hidayah kepada kalian. Atau jika Allah swt. berkehendak, akan langsung mengadzab kalian. Atau Allah swt. akan menangguhkan dan memberi tenggat waktu hidup untuk kalian, agar kemudian kalian diadzab lebih dahsyat lagi. (Yunus: 33-34).

Ibrah dari Kisah Nabi Nuh
1. Berdakwah adalah wajib bagi para rasul. Sepeninggal mereka kewajiban itu diwajibkan kepada para pengikutnya sesuai kemampuan masing-masing. Rasulullah saw. bersabda, ”Senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang menyeru dan menegakkan kebenaran, sampai datang kepada mereka ketentuan Allah (kemenangan).” (Bukhari, Sahih Bukhari, hal. 286).
2. Di dalam melaksanakan dakwah ilallah dibutuhkan ilmu tentang fiqh dakwah, yaitu pengetahuan tentang tahapan dakwah, sarana dakwah, metode dakwah, dan mengetahui latar belakang serta kondisi objek dakwah. Sebagaimana Rasulullah saw. pernah mencontohkan. Beliau pernah ditanya oleh beberapa sahabat dalam kesempatan berbeda dengan satu pertanyaan. Namun Beliau menjawab dengan beragam. Beliau menjawab amal yang paling dicintai Allah adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, karena sahabat yang bertanya ternyata tidak berbuat baik kepada orang tuanya. Jawaban untuk yang lain, shalat tepat waktu, karena Rasul mengetahui bahwa sahabat yang satu ini kurang memperhatikan masalah shalat berjama’ah tepat waktu. Pada kesempatan yang lain, beliau menjawab jihad fii sabilillah, karena sahabat yang tanya ternyata tidak sungguh-sungguh dalam berjihad.
3. Bangga dengan para pendukung dakwah. Tidak pandang bulu siapa pun mereka dan berapa pun jumlah mereka. Ketika Rasulullah saw. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah. Tapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu. Mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja. Lalu turunlah ayat ini. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (Al-An’am: 52).

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2007/04/141/kisah-dakwah-nabi-nuh/#ixzz1r8KQEuQE